Secara harfiah, perkataan tarbiyah tidak terdapat dalam Al-Qur’an, tetapi perkataan tersebut secara tersiratnya ada dalam istilah `ribbiyyuna katsir’seperti dalam ayat berikut : “Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah kerana bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS Ali Imran : 146)
`Ribbiyyun’ menunjukkan hasil dari sebuah proses tarbiyah yakni orang-orang yang ditarbiyah.
- Mereka telah mendapatkan arahan rabbani secara intensif sehingga wawasan dan pemahaman mereka tumbuh dan berkembang serta keperibadian mereka terbentuk dan diwarnai dengan nilai-nilai Islam.
- Fikrah mereka juga terisi dengan pengetahuan yang mendalam mengenai dasar-dasar keislaman, baik masalah akidah, ibadah dan muamalah serta akhlak.
Kesemua itu akhirnya membuatkan peserta-peserta tarbiyah tersebut :
- Memiliki keupayaan berfikir yang kuat.
- Tidak mudah takut.
- Tidak mudah lemah dan menyerah dalam menghadapi berbagai rintangan di jalan dakwah.
- Tidak tinggal diam atau membisu.
- Menampakkan kesungguhan daya juang yang tinggi.
- Memiliki kesabaran yang produktif di jalan dakwah.
Dengan nama Allah, selawat dan salam ke atas Rasulullah saw dan orang-orang yang mengikutinya. Betapa banyak peradaban yang pada awalnya berkuasa namun akhirnya binasa laksana tanam-tanaman yang sudah dituai, seakan-akan belum pernah tumbuh semalam. Setiap peradaban yang jelas penyimpangan dalam kekuasaannya sehingga terjadi kerosakan dan kehancuran adalah disebabkan mereka menolak dan mengenepikan hidayah Allah.Hal ini hanya akan berlaku kerana peraturan dan individu telah keluar dari petunjuk Allah, menuruti hawa nafsu, melampaui batas dan menyombongkan diri, serta banyak melakukan kerosakan di muka bumi. Allah SWT berfirman:“Telah tampak di daratan dan di lautan apa yang dilakukan oleh tangan-tangan mereka, agar mereka merasakan dari sebahagian yang mereka lakukan, agar mereka dapat kembali”. (Ar-Ruum:41).
Pada ketika tangan-tangan manusia menjadi sebab lahirnya kezaliman, penipuan dan kecurangan, maka Allah akan menimpa hukuman ke atas sebahagian perbuatan yang mereka lakukan supaya diharapkan mereka kembali kepada Tuhan mereka dan menahan diri dari melakukan kerosakan, kezaliman dan penipuan.Kesaksian palsu adalah seseorang yang menjadi saksi tanpa hak. Oleh sebab itu saksi palsu menjadi sebab tumbuhnya benih kebencian dan kedengkian di dalam hati kerana terdapat usaha menghilangkan dan mengabaikan hak-hak rakyat, menindas mereka, menghapuskan prinsip-prinsip keadilan dan keseimbangan.
Sudah tentu seorang yang zalim membantu melakukan penindasan terhadap yang tertindas, memberikan hak kepada seseorang yang tidak memiliki hak, melemahkan sendi-sendi keamanan, memporak perandakan kehidupan bermasyarakat dan menghancurkan asasnya. Justeru terdapat dalam Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya kutukan terhadap tindakan tersebut. Allah berfirman:“Dan mereka yang tidak melakukan saksi palsu, dan ketika mereka melewati sesuatu yang sia-sia, maka mereka akan melewatinya dengan ketundukan”. (Al-Furqan: 72). [


Tuan-tuan, puan-puan serta hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah sekalian. Sudah lebih 52 tahun kita meninggalkan era penjajahan terhadap negara ini. Berbagai-bagai peristiwa penting telah terjadi; sudah 12 kali pilihan raya berlangsung dan pemimpin silih berganti. Namun keadaan kita hari ini masih tidak menepati sasaran hidup masyarakat Islam yang maju dan berjaya. Kita masih tidak ditadbir oleh kepemimpinan Islam yang berwibawa. Kita masih tidak dinaungi peraturan hidup atau syariah yang adil yang mengatur urusan negara dan kehidupan rakyat sepenuhnya tanpa pengecualian. Di peringkat global, dunia masih lagi berada dalam genggaman kuasa-kuasa besar, bekas-bekas penjajah, masih lagi diancam penjajahan bentuk baru, peperangan, perhambaan, penindasan, pemerasan, perkauman yang sempit, kemiskinan, kelaparan, kejahilan dan pelbagai bentuk kezaliman.
Peristiwa kejatuhan khilafah Othmaniah pada tahun 1924 merupakan satu tragedi pahit dalam sejarah ummah. Kita kehilangan payung yang selama ini memayungi ummah di seluruh dunia. Selepas kejatuhannya, ummah berhadapan dengan penjajahan dan penindasan yang berleluasa, alam Islam dipecah-pecahkan menjadi berbagai-bagai negara yang lemah, berbeza sistem, pemimpinnya terdiri daripada golongan yang memuja barat atau yang tidak punya kelayakan, umat dilumpuhkan dan hak-hak mereka dinafikan. Palestin bertukar tangan. Israel didirikan di tengah-tengah alam Islam. Kewujudannya ibarat duri dalam daging, sebagai pangkalan perang musuh, betul-betul di jantung alam Islam yang telah memisahkan ummah di benua Afrika daripada saudara-saudaranya di benua Asia. [
Dan selidikilah realiti yang ada kerana hal tersebut merupakan sebahagian dari perencanaan,”. Imam Al-Banna menyatakan tentang sifat orang yang memiliki cita-cita yang tinggi: “Iaitu yang sentiasa berfikir, memberi perhatian yang utama, jika dijemput segera menerima, jika dipanggil segera menyahut, tidak menjauhkan diri dari medan amal, dia merasai kerehatan, keseronokan dan kenikmatannya di dalam bekerja. Matlamatnya adalah mencapai keredhaan Allah dan mendapat syurga serta menjadi sebaik-baik manusia, sebagaimana yang disifatkan oleh Rasulullah s.a.w. di dalam hadis baginda: “sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia.”



Umat Islam sekalipun dalam keadaan lemah dan terpecah belah namun secara umum tetap setia pada agamanya dan negaranya, menolak untuk berkompromi dengan mengorbankan izzah (kehormatan) dan martabatnya, dan menolak berbagai upaya dalam melakukan pemutusan hubungan dan perpecahan, seperti yang dijelaskan oleh Allah tentang umat yang terbaik “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya adalah sangat tegas terhadap orang-orang kafir dan belas kasih (saling menyayangi) di antara mereka sendiri” (Al-Fath:29), Dan firman Allah dalam mendeskripsikan orang-orang yang dicintai Allah dan mereka mencintai Allah: “Senantiasa tunduk dan hormat terhadap orang-orang beriman dan tegas dihadapan orang-orang kafir” (Al-Maidah:54).
Gabungan antara tegas dan lembut, dan tunduk (merendah diri) dan izzah (kebanggaan) pada karakter seorang muslim ini mengungkapkan akan adanya keseimbangan yang menakjubkan, kerana itu sikap tegas yang bukan pada tempatnya tidaklah terpuji, begitupula saling berkasih sayang, namun yang terpuji adalah hendaknya seseorang memiliki sikap tegas pada tempatnya, bersikap lunak juga pada tempatnya, memiliki izzah dan bangga ketika berada dihadapan musuh-musuhnya dan pada spionase umatnya, lalu memandang mereka dengan pandangan kebanggaan; bukan pandangan lemah dan hina, hormat dan tunduk meletakkan sayapnya ketika berhubungan dengan urusan ikhwannya dan anak bangsanya, hatinya penuh dengan kasih sayang dan cinta kepada mereka, dengan itulah menjadi sebuah refleksi sabda nabi saw: “Perumpamaan orang-orang beriman dalam berkasih sayang, saling cinta dan kelembutan adalah seperti satu tubuh yang jika mengalami darinya sakit maka seluruh tubuhnya ikut merasakannya dengan begadang dan demam”. (Muslim).